Search

AS Awasi Mata Uang Singapura dan Malaysia, Karena Manipulasi?

Jakarta, CNBC Indonesia - Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) memasukkan Singapura, Malaysia, dan Vietnam ke dalam daftar pengawasan atas dugaan tindakan terkait manipulasi mata uang. Hal ini menempatkan kebijakan valuta asing negara-negara itu di bawah pengawasan.

Singapura masuk dalam daftar itu karena surplus neraca berjalannya yang besar dan pembelian mata uang asing bersih bernilai setidaknya US$17 miliar (Rp 245 triliun) pada 2018, setara dengan 4,6% dari produk domestik bruto (PDB), menurut Departemen Keuangan.

Malaysia dimasukkan dalam daftar karena surplus perdagangan bilateralnya dengan AS tahun lalu sebesar US$27 miliar dan intervensi mata uangnya, sementara Vietnam disorot karena neraca transaksi berjalannya yang besar dan surplus dari perdagangan bilateral yang juga tinggi.

Dicap sebagai manipulator mata uang tidak menjadikan negara tersebut menghadapi hukuman langsung, tetapi dapat mengguncang pasar keuangan.

Singapura harus melakukan reformasi yang akan menurunkan suku bunga tabungan tinggi dan meningkatkan konsumsi domestik yang rendah, sambil memastikan bahwa nilai tukar riilnya sejalan dengan fundamental ekonomi, demi membantu mempersempit surplus eksternal yang besar dan persisten, kata Departemen Keuangan dalam laporannya.


Departemen itu juga menyambut janji Singapura untuk melaporkan lebih banyak data intervensi, sambil mengakui bahwa penyesuaian mata uang adalah alat kebijakan moneter utamanya.

"Penyesuaian kebijakan moneter Singapura terutama dilakukan melalui mata uangnya, karenanya, upaya intervensi menjadi relatif lebih tinggi," kata Christy Tan, kepala strategi pasar di National Australia Bank, dilansir dari The Star, Rabu (29/05/2019).

"Saya ragu hal itu akan memiliki dampak yang berarti," katanya, mencatat bahwa Singapura "masih sangat berorientasi ekspor" di tengah desakan AS untuk meningkatkan konsumsi domestik.

Bank sentral Malaysia mengatakan negara itu mendukung perdagangan bebas dan adil, juga tidak memiliki praktik mata uang yang tidak adil. Lembaga itu juga menambahkan bahwa pencantuman negaranya dalam daftar tidak memiliki konsekuensi bagi perekonomian negara itu.

Singapura & Malaysia Masuk Daftar Manipulator Mata Uang ASFoto: REUTERS/Thomas White

"Nilai tukar ringgit ditentukan oleh pasar dan tidak bergantung pada daya saing ekspor," kata Bank Negara Malaysia dalam sebuah pernyataan.

Negara-negara dengan surplus neraca berjalan dengan AS yang setara dengan 2% dari produk domestik bruto sekarang memenuhi syarat untuk masuk daftar tersebut. Ambang itu turun dari 3%. Ambang batas lainnya termasuk intervensi terus-menerus di pasar untuk mata uang suatu negara, dan surplus perdagangan setidaknya US$20 miliar.

Negara-negara yang memenuhi dua dari tiga kriteria dimasukkan dalam daftar pantauan manipulasi mata uang. China hanya memenuhi salah satu kriteria, tetapi Departemen Keuangan mengatakan negara itu ada dalam daftar karena surplus perdagangannya yang besar dengan AS.


Dua negara Asia lainnya yang ada dalam daftar adalah Jepang dan Korea Selatan. India dikeluarkan dari daftar pengawasan karena hanya memenuhi satu dari tiga kriteria (surplus bilateral "signifikan" dengan AS) untuk dua laporan berturut-turut.

Vietnam berisiko memenuhi ketiga kriteria baru Departemen Keuangan.

Departemen Keuangan AS baru-baru ini memaklumi intervensi mata uang Vietnam dan mengutip pergerakan di kedua arah dan surplus valas yang memiliki "alasan masuk akal" untuk membangun kembali cadangan devisa. (prm)

Let's block ads! (Why?)



http://bit.ly/2KdkcwX
May 29, 2019 at 10:03PM

Bagikan Berita Ini

0 Response to "AS Awasi Mata Uang Singapura dan Malaysia, Karena Manipulasi?"

Post a Comment

Powered by Blogger.