
Kinerja IHSG senada dengan mayoritas bursa saham utama kawasan Asia yang juga sedang ditransaksikan di zona merah: indeks Shanghai turun 0,26%, indeks Hang Seng turun 1,23%, dan indeks Kospi turun 0,11%.
Sejatinya, ada sentimen positif bagi bursa saham Asia yakni The Federal Reserve selaku bank sentral AS yang kian hari terlihat kian dovish saja.
"Pada April, saya bilang bahwa saya optimistis outlook cukup solid. Namun saat ini saya benar-benar waspada terhadap risiko downside. Sebuah perubahan besar dalam waktu yang begitu singkat," kata Presiden The Fed Dallas Robert Kaplan, dikutip dari Reuters.
Sebelumnya, pernyataan bernada dovish juga disuarakan oleh Gubernur The Fed, Jerome Powell.
"Kami memantau dengan ketat dampak dari berbagai perkembangan ini (perang dagang) terhadap proyeksi perekonomian AS dan, selalu, kami akan mengambil tindakan yang sesuai untuk mempertahankan pertumbuhan (ekonomi), dengan pasar tenaga kerja yang kuat dan inflasi yang ada di sekitar target simetris 2% kami," kata Powell, dilansir dari Reuters.
Di tengah aura perlambatan perekonomian global, tentu pemangkasan tingkat suku bunga acuan oleh The Fed menjadi opsi terbaik bagi pasar saham.
Sayangnya, panasnya tensi antara AS dan China di bidang perdagangan membuat aksi jual dilakukan oleh pelaku pasar saham Asia. Menjelang gelaran KTT G-20 pada akhir bulan ini di Jepang yang berpeluang mempertemukan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping, nada keras dilontarkan oleh kedua belah negara.
Trump menegaskan bahwa dirinya tidak ingin sebuah kesepakatan dagang yang merugikan Negeri Adidaya.
"China adalah kompetitor utama dan mereka ingin sebuah kesepakatan yang merugikan (bagi AS). Memang saya yang menunda terjadinya kesepakatan, karena saya ingin ada kesepakatan yang luar biasa atau tidak sama sekali," papar Trump, dilansir dari Reuters.
"Sebenarnya kami sudah sepakat dengan China, tetapi mereka malah bergerak mundur. Mereka bilang tidak ingin ada empat hal, lima hal. Namun kami sudah sepakat dengan China, dan kecuali mereka mau kembali ke kesepakatan itu maka saya tidak tertarik," lanjutnya.
Dari pihak China, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Geng Shuang menegaskan bahwa Beijing tidak takut jika memang harus menjalani perang dagang.
"China tidak ingin perang dagang, tetapi tidak takut untuk menghadapinya. Jika AS ingin friksi dagang tereskalasi, maka kami akan merespons dan berjuang sampai akhir," tuturnya, mengutip Reuters.
Jika tak ada resolusi dalam waktu dekat, maka perang dagang antar kedua negara yang sudah berlangsung begitu lama bisa tereskalasi. Akibatnya, laju perekonomian AS dan China akan diterpa tekanan yang lebih besar lagi. (ank/hps)
http://bit.ly/2KKTGvh
June 12, 2019 at 04:39PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Pasca Berlari Kencang Selama 4 Hari, Akhirnya IHSG Keok Juga"
Post a Comment