Seakan sudah pasrah, warga di beberapa kecamatan bahkan sudah menyiapkan antisipasi setiap tahunnya demi menghadapi banjir. Ada yang sudah menyiapkan tanggul-tanggul di depan rumah, hingga merencanakan pengungsian jauh hari sebelum musim hujan.
Namun bagaimanapun, banjir bukanlah suatu yang harusnya menjadi bencana tahunan. Biarlah dia menjadi fenomena tahunan saja, tak perlu menjadi bencana.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta yang dikutip dari detik.com, banjir terus menimbulkan kerugian di Jakarta setidaknya sejak tahun 2012. Tak terkecuali pada masa kepemimpinan Jakarta dipegang oleh Joko Widodo (Jokowi).
Pada tahun 2014, tepatnya bulan Januari hingga Februari, banjir besar kembali menghantam Jakarta selama sekitar 20 hari. Bahkan pada saat itu banjir paling dalam setinggi 4 meter dan menyebabkan 62.819 orang mengungsi. Dalam kejadian tersebut, sebanyak 23 orang dikabarkan meninggal dunia.
Setahun berselang, komando tertinggi Jakarta diambil alih oleh Basuki Tjahaja Purnama (BTP) karena Jokowi mendapatkan tahta yang lebih tinggi, yaitu Presiden.
Tahun pertama BTP menjabat gubernur DKI Jakarta, ujian yang datang lebih berat lagi.
Tahun 2015, sebanyak 38 kecamatan harus tergenang banjir selama 7 hari pada bulan Februari. Parahnya, kala itu banjir membuat 231.566 orang terpaksa mengungsi. Jumlah tersebut merupakan yang paling tinggi setidaknya sejak 2012. Sementara, sebanyak 5 orang meninggal dunia.
Tahun berikutnya, 2016 pun terulang lagi. Hujan yang terjadi sepanjang Februari-April sukses membuat 70.218 orang dari 25 kecamatan mengungsi akibat banjir yang berlangsung selama rata-rata 2 hari. Namun kala itu tidak ada kabar korban jiwa, untungnya.
Beruntung pada akhir masa jabatan BTP sebagai Gubernur DKI Jakarta, tahun 2017, wilayah terdampak banjir hanya 15 kecamatan. Alhasil jumlah pengungsi juga cukup rendah, hanya 1.613 orang. Tapi kali ini ada 2 orang bernasib nahas karena harus meregang nyawa.
Sederet peristiwa tersebut membuktikan bahwa usaha mitigasi yang telah dilakukan untuk menanggulangi banjir di Jakarta belum 100% berhasil.
Selama Jakarta masih belum punya infrastruktur manajemen sumber daya air yang memadai, pasti akan ada saja banjir di suatu tempat. Mengandalkan pompa bisa jadi salah satu solusi, namun hanya untuk jangka pendek. Satu dipompa, daerah lain timbul banjir.
Pasalnya secara geografis, sebagian wilayah di DKI Jakarta memang sudah berada di bawah permukaan air. Catat, di bawah permukaan air bukan berarti Jakarta sudah tenggelam, karena di wilayah pantai utara masih bisa menahan air laut agar tidak masuk. Selain itu masih ada tanggul-tanggul yang menahan luapan air sungai.
Namun kala sungai kelebihan debit air karena hujan yang terlampau deras, air kemungkinan besar memang akan menggenang dan menyebabkan banjir. Jakarta sudah seperti mangkuk ayam.
Salah satu penyebabnya adalah marahnya pembangunan infrastruktur berat di Jakarta, seperti gedung, jalan, perumahan, dan jembatan. Beban akibat struktur tersebut membuat tanah di beberapa wilayah amblas. Ini tak kasat mata, harus diukur menggunakan metode saintifk.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Penelitan dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITB, setiap tahun permukaan tanah Jakarta semakin turun dengan kecepatan 1-12 cm/tahun secara variatif di berbagai daerah.
![]() |
Penelitian tersebut juga mengatakan bahwa sepanjang 2002-2010 permukaan tanah di daerah sekitar Pantai Indah Kapuk telah amblas sebesar 116 cm.
Maka dari itu, tanpa adanya infrastruktur manajemen air yang masif, seperti waduk atau saluran air yang memadai, penanggulangan banjir Jakarta akan hanya sekedar tambal-sulam.
TIM RISET CNBC INDONESIA
(taa/dru)http://bit.ly/2LiSUaZ
May 02, 2019 at 09:44PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Mau Ahok Atau Anies, Banjir Pasti Tetap Terjang Jakarta!"
Post a Comment