Search

Jababeka Belum Kelar, Tambang Was-was, Softex dan Charm Mau IPO

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada perdagangan Jumat pekan lalu (12/7/2019), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah tipis 0,04% ke level 6.414,2. IHSG dengan cepat membalikkan keadaan dengan merangsek ke zona hijau.

Namun tak lama kemudian, IHSG terjerembab lagi di zona merah dan setelah itu, IHSG terus memperlebar kekalahannya. Per akhir sesi dua pekan lalu, IHSG jatuh 0,68% ke level 6.373,35.

Kinerja IHSG berbanding terbalik dengan seluruh bursa saham utama kawasan Asia yang justru kompak ditransaksikan di zona hijau: indeks Nikkei naik 0,2%, indeks Shanghai menguat 0,44%, indeks Hang Seng terapresiasi 0,14%, indeks Straits Times terkerek 0,14%, dan indeks Kospi terapresasi 0,29%.

Terdapat beberapa aksi emiten yang layak disimak sebelum pembukaan perdagangan hari ini.


1. Terima Kasih SBI! Penjualan Semen Indonesia Juni Tumbuh 32%
Perusahaan holding (induk) semen badan usaha milik negara, PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), pada Juni hanya mampu menjual 1,58 juta ton atau tumbuh tipis 0,58% year-on-year (YoY). Perolehan ini membaik dari catatan bulan Mei yang anjlok 9,71% secara tahunan.

SMGR berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan positif karena, ekspor perusahaan tercatat naik 11,53% YoY ke 1,43 juta ton. Sedangkan penjualan dalam negeri tercatat anjlok 48,28% YoY menjadi 148.857 ton.

2. Garuda: Restatement Lapkeu 2018 Paling Lambat 26 Juli
PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) meminta perpanjangan waktu untuk penyampaian restatement Laporan Keuangan tahun 2018. Restatement LKT 2018 akan disampaikan paling lambat 26 Juli 2019.

"Kami sampaikan bahwa sehubungan dengan penyelesaian proses audit perbaikan dan penyajian kembali Laporan Keuangan Tahunan Perseroan per 31 Desember 2018 (restatement LKT), penyampaian restatement LKT dan public expose perseroan akan dilaksanakan paling lambat tanggal 26 Juli 2019," ujar Direktur Keuangan & Manajemen Risiko Garuda Indonesia Fuad Rizal, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Jumat (12/7/2019).

3. Softex Mau IPO, Manajemen Masih Malu-malu Terbuka
Manajemen PT Softex Indonesia mengakui bahwa pihaknya tengah dalam pembahasan untuk melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Chief Executive Officer dan Presiden Direktur Softex Indonesia Hendra Setiawan mengatakan rencana IPO ini masih didiskusikan oleh internal perusahaan, sehingga dia enggan berbagi mengenai aksi korporasi ini.


4. Kurang Puas, BEI Dalami Perubahan Pemegang Saham Jababeka
Bursa Efek Indonesia (BEI) masih belum mendapatakan jawaban dari pihak PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) terkait dengan adanya perubahan pemegang saham pengedali di perusahaan ini.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI IGD N Yetna Setia mengatakan meski perusahaan telah memberikan jawaban terkait dengan adanya kemungkinan gagal bayar atas notes yang diterbitkannya. Namun, pihak perusahaan masih bungkam mengenai adanya perubahan pemegang saham mayoritas perusahaan.

5. Tak Mau Kalah dengan Softex, Charm Juga akan IPO Tahun Ini
Produsen produk sanitary PT Uni-Charm tengah dalam persiapan untuk menjadi perusahaan publik dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menurut rencana, aksi korporasi ini akan menggunakan laporan keuangan Juni 2019, sehingga paling lambat memiliki waktu hingga akhir 2019 untuk merealisasikan rencana tersebut.

6. Kembangkan Usaha Syariah, Bukopin Cari Mitra ke Luar Negeri
PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) melanjutkan pencarian mitra dari luar negeri untuk mengembangkan anak usaha Bank Syariah Bukopin (BSB). Hal ini dilakukan setelah pembicaraan dengan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) tidak mencapai kesepakatan.

Calon mitra yang telah melakukan penjajakan dengan Bukopin antara lain berasal dari Bahrain dan Malaysia. "Kita sedang mencari partner yang ahli di bidang syariah untuk mengembangkan Bukopin Syariah. Kita kan [Bukopin] bank konvensional, bagaimana supaya Bank Bukopin bisa kompetitif kita mau cari partner," ujar Direktur Utama Bukopin Eko Rachmansyah Gindo kepada CNBC, Jumat (12/7/2019).

7. Habis Tanito, Arutmin & KPC Harap-Harap Cemas Izin Tambang
Kejadian yang dialami oleh tambang Tanito Harum tentunya tidak ingin dialami oleh PKP2B generasi pertama lainnya yang akan habis izin dalam hitungan tahun mendatang.

Ketua Indonesia Mining Institute (IMI) Irwandi Arif menuturkan, ketidakpastian nasib Tanito Harum telah memberikan beberapa dampak. Sejumlah stok batu bara milik Tanito Harum sudah mulai terbakar, dan penghentian operasi Tanito telah menyebabkan terjadinya PHK bagi 300 pegawai Tanito.

(tas)

Let's block ads! (Why?)



https://ift.tt/2YVPeye
July 15, 2019 at 04:03PM

Bagikan Berita Ini

Related Posts :

0 Response to "Jababeka Belum Kelar, Tambang Was-was, Softex dan Charm Mau IPO"

Post a Comment

Powered by Blogger.