
Hal ini sungguh disayangkan, karena tahun lalu perusahaan kembali berhasil mencatatkan laba bersih sebesar Rp 186,36 miliar dari sebelumnya membukukan kerugian hingga Rp 141,28 miliar.
Melansir laporan Moody's alasan lembaga tersebut memberikan pandangan negatif pada GJTL karena tingginya resiko terhadap volatilitas harga bahan baku dan nilai tukar yang dapat menekan perolehan margin perusahaan.
Pasalnya, meskipun GJTL melaporkan kinerja keuangan perusahaan dalam mata uang rupiah, tapi mayoritas biaya bahan baku dan utang obligasi menggunakan mata uang asing (US$).
Perusahaan memang menunjukkan peningkatan penjualan yang cukup signifikan, baik untuk pasar domestik atau pun ekspor Namun, capaian tersebut belum mampu mengurangi tekanan yang datang dari pelemahan rupiah dan tingginya harga komoditas di tahun 2018.
Alhasil proporsi margin laba kotor (earning before interest, taxes, and depreciation/EBITDA) turun menjadi hanya 12,5% yang merupakan level terendah dalam lima tahun terakhir.
Lebih lanjut, Moody's masih mungkin menurunkan lagi peringkat GJTL jika proporsi margin EBITDA masih di bawah 15% dan tingkat likuiditas perusahaan turun.
Kemudian, peluang menaikkan peringkat GJTL sangat kecil dalam waktu dekat. Akan tetapi setidaknya Moody's dapat kembali memberikan pandangan stabil jika perusahaan dapat terus meningkatkan pendapatannya, mempertahankan rasio laba kotor, menghasilkan arus kas positif, dan mengurangi tingkat hutang. (dwa/hps)
http://bit.ly/2uYPNtM
April 10, 2019 at 11:10PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Moody's Pangkas Proyeksi Gajah Tunggal jadi Negatif, Kenapa?"
Post a Comment