Ramai pelapak pindahan dari Kwitang ke Blok-M Square menurut Ken, yakni 85 persen.Pisah dengan Kwitang tidak berarti putus hubungan dengan pelapak disana. Karena arus perdagangan masih terjalin antara pelapak Kwitang dan Blok-M Square. Ken adalah pelapak khusus buku-buku lama. Ia mendapat buku-buku dari berbagai sumber.
![]() |
Salah satunya dari orang-orang yang mencari buku bekas dari hasil berburu keliling. Biasanya mereka mengabari Ken jika mendapat buku bekas yang hendak dijual. Atau ada orang yang ingin pindahan rumah dan tak mau rumit dengan berkas atau buku bekas mereka.
Antara Ken dan orang yang berburu buku tidak mempunyai ikatan kontrak atau semacamnya. Mereka bisa menjual buku pada pelapak lain dengan harga terbuka. Harga itu ditentukan oleh judul, ukuran, kelangkaan, dan lainya.
Ken memang fokus pada buku-buku tertentu. Karena toko bukunya bernama Sriwijaya Antik memang fokus pada penjualan buku sejarah dan sastra. Pelapak lainya juga mempunyai ciri yang sama menurut Ken. Ada yang fokus pada buku-buku agama, ekonomi, hukum, atau manajemen saja.
Jika ada toko lain yang menjual buku-buku sejarah di Blok-M Square sama seperti Ken, biasanya mereka akan saling membantu jika pelanggan tidak menemukan buku di toko yang sedang dalam transaksi dengan pelanggan. Ken dan toko itu bisa saling oper buku. Toko lain memberi dari Ken dan ia jual dengan harga yang lebih tinggi.
Pada saat dirinya berjualan di Kwitang, Ken hanya menjual buku-buku baru. Ketertarikannya berubah pada penjualan buku bekas dan sejarah karena rekananya yang bernama Johan.
Memilih buku sejarah yang bagus menurutnya tidak ada kriteria khusus tertentu. Karena buku sejarah bersifat abadi. Setiap saat pasti ada yang membutuhkan buku sejarah. Namun buku sejarah juga ditentukan pada fenomena pasar yang sedang tren. Jika tren sedang mengagumi satu tokoh seperti Soekarno atau Pramoedya itu akan memengaruhi harga jual buku tinggi, bisa sampai jutaan.
Ken tidak mengungkapkan omset keuntungan yang didapatnya. Ken hanya bilang bahwa uang yang ia peroleh cukup untuk cicilan kios yang berjumlah 4-5 juta rupiah perbulanya.
![]() |
Soal pelapak buku online yang sedang ramai Ken juga tidak ambil pusing bilamana kiosnya tidak laku. Pun ia juga menerapkan perdagangan buku online supaya bisa mengikuti tren jaman. Namun ia memiliki preferensi, ia lebih suka berdagang lewat kios dibanding online karena mendapat keuntungan yang justru lebih banyak.
"Karena kebiasaan saya selama puluhan tahun, saya lebih condong menjual di kios. Misalnya ada yang ingin membeli buku dengan judul A, nanti saya tahu bahwa ada buku A1,A2,A3 yang juga membahas hal yang sama. Saya bisa menawarkan buku lain yang serupa pada orang itu. Jadi yang tadinya dia beli Cuma satu, dia bisa beli 5 buku," ucap Ken pada CNBC Indonesia di Kiosnya, Blok-M Square (2/4/2019).
Namun ada juga pelapak yang sudah beralih dari penjual kios ke online. Karena memang pelapak online bisa memangkas biaya. Tidak perlu menyewa cicilan kios dan biaya teknis lainya. Cukup bermodal kuota pulsa saja menurut Ken.
[Gambas:Video CNBC] (gus)
https://ift.tt/2UfCWlR
April 04, 2019 at 07:32PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Tergusur di Kwitang, Ini Nasib Pelapak Buku Bekas di Blok M"
Post a Comment