
Mengacu laporan keuangan GMFI, laba bersih amblas menjadi senilai US$ 3,02 juta atau setara dengan Rp 42,97 miliar (asumsi kurs Rp 14.244/US$) dari laba bersih periode yang sama tahun lalu US$ 7,36 juta atau Rp 104,80 miliar.
Kondisi ini menjadikan nilai laba per saham perusahaan turun menjadi US$ 0,000107/saham dari periode tahun sebelumnya US$ 0,000261/saham.
Pendapatan anak usaha PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) itu sebetulnya naik 3,66% menjadi US$ 120,18 juta atau Rp 1,71 triliun dari pendapatan per Maret 2018 yakni US$ 115,93 juta atau Rp 1,65 triliun.
Hanya saja perusahaan dibebani oleh beban keuangan yang naik signifikan dari US$ 2,78 juta menjadi senilai US$ 4,18 juta.
Beban material juga naik menjadi US$ 34,23 juta dari sebelumnya US$ 28,29 juta dan beban subkontrak naik menjadi US$ 29,36 juta dari US$ 25,92 juta.
Pendapatan terbesar dari bisnis repair dan overhaul yang mencapai US$ 101,12 juta, sementara dari bisnis perawatan mencapai US$ 19,05 juta.
Pendapatan terbesar atau di atas 10% di antaranya dari tiga maskapai yakni Garuda Indonesia (US$ 44,23 juta), Sriwijaya Air (US$ 13,64 juta), dan Citilink Indonesia (US$ 16,23 juta).
Aset perusahaan secara year to date hingga Maret 2019 naik tipis menjadi US$ 763,81 juta dari posisi akhir Desember 2018 yang senilai US$ 742,74 juta. Terdiri dari aset lancar senilai US$ 615,15 juta dan aset tak lancar senilai US$ 148,65 juta.
Di pos liabilitas secara total naik menjadi US$ 437,42 juta selama tiga bulan terakhir dari posisi di akhir Desember 2018 senilai US$ 413,38 juta. Liabilitas jangka pendek senilai US$ 300,96 juta dan liabilitas jangka panjang senilai US$ 136,46 juta.
Ekuitas perusahaan bernilai sebesar US$ 326,39 juta yang turun tipis dari US$ 329,15 juta di akhir Desember lalu.
Simak ulasan strategi bisnis dari GMF Aero Asia.
[Gambas:Video CNBC]
(tas)
http://bit.ly/2Dqsv4u
April 22, 2019 at 08:38PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Laba GMF Aero Asia Amblas 59% di Kuartal I, Apa Penekannya?"
Post a Comment