Super app memungkinkan pengguna mengakses berbagai layanan dalam satu aplikasi seluler dan tak perlu pindah ke aplikasi lain. Super app menciptakan ketergantungan pengguna akan satu aplikasi saja.
"[Saat ini terjadi perlombaan untuk menjadi aplikasi super di ASEAN," ujar Varun Mittal dari konsultan EY dalam diskusi panel Credit Suisse Asian Investment Conference di Hong Kong, seperti dikutip dari CNBC International, Rabu (27/3/2019).
"Langkah pertama yang dilakukan melalui pembayaran digital," ujar Varun Mittal. "Menggantungkan pendapatan pada sistem pembayaran saja bukan bisnis yang layak."
Nilai ekonomi digital Asia Tenggara diperkirakan melebih US$ 240 miliar di 2025, menurut riset Google dan Temasek Holdings. Laporan itu mengatakan saat internet seluler jadi lebih terjangkau, bisnis di sektor berbagi tumpangan (ride hailing) dan e-commerce akan semakin meningkat.
Foto: Edward Ricardo |
Tahun 2018, ekonomi internet di Asia Tenggara capai US$72 miliar, naik 37% dari tahun sebelumnya.
Varun Mittal menambahkan agar sukses, startup harus membangun kepercayaan dan menunjukkan bahwa data yang dikumpulkan tidak untuk kepentingan perusahaan tetapi, "kami ingin membantu Anda menjadi bagian dari perekonomian ini, mari kita bekerja sama untuk membantu Anda sukses."
Sektor ride-hailing terus meningkat popularitasnya yang dipimpin oleh Go-Jek dan Grab Holdings. Pekan lalu, Grab Financial menyatakan akan meluncurkan beberapa layanan keuangan di Asia Tenggara.
Simak video dilema startup 'bakar' duit di bawah ini:
[Gambas:Video CNBC]
(roy/roy)
https://ift.tt/2HJTlZd
March 27, 2019 at 09:03PM
Bagikan Berita Ini
Foto: Edward Ricardo
0 Response to "Banyak Startup Mau Jadi Super App, Ancaman bagi Gojek dan Grab"
Post a Comment