
Penguatan harga CPO kembali setelah selama lima hari berturut-turut selalu ditutup di zona merah. Hal tersebut membuat harga CPO tercatat melemah 3,01% selama sepekan atau secara point-to-point. Namun, sejak awal tahun harganya masih bisa terangkat 3,21%.
Naiknya nilai ekspor minyak sawit Indonesia sebesar 4% MtM di bulan Januari mengindikasikan bahwa permintaan masih tetap tumbuh di tengah perlambatan ekonomi global.
Selain itu produksi sawit Malaysia bulan Februari yang diprediksi turun dibanding bulan sebelumnya juga masih berpotensi memberi dorongan pada pergerakan harga.
"Prediksi berkurangnya produksi [minyak sawit] memberi energi positif," ujar pialang yang berbasis di Kuala Lumpur, mengutip Reuters (1/3/2019).
Namun demikian, Reuters mengabarkan bahwa pelaku industri memprediksi permintaan minyak sawit tahun ini akan mengalami kontraksi untuk pertama kali dalam 2 dekade.
Hal ini terjadi akibat meningkatnya produksi minyak nabati domestik di India, importir minyak sawit terbesar di dunia. Tak hanya itu, melambatnya permintaan dari Eropa dan China juga ikut berpotensi membuat keseimbangan di minyak sawit menjadi timpang.
TIM RISET CNBC INDONESIA
(taa/tas)
https://ift.tt/2Et2qSc
March 04, 2019 at 04:07PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Permintaan Bakal Terkoreksi, Mampukah Harga CPO Bangkit?"
Post a Comment