
Selama sepekan, harga batu bara turun sebesar 15,51% secara point-to-point. Sedangkan sejak awal tahun harganya juga tercatat melemah 22,59%.
Permintaan batu bara dunia yang masih belum terlihat meningkat terus memberikan tekanan pada pergerakan harga.
Pasalnya ekspor batu bara thermal Australia pada bulan Februari 2019 jatuh ke level paling rendah sejak April 2015, seperti yang dikutip dari Argusmedia.
Sebagai informasi, Australia merupakan negara eksportir batu bara terbesar di dunia. Pada tahun 2017, volume ekspor batu bara Australia mencapai 372 juta ton. Melampaui Indonesia di posisi ke-2 dengan total volume ekspor batu bara yang sebesar 319 juta ton.
Artinya, penurunan pengiriman batu bara dari Australia bisa menggambarkan kondisi permintaan global yang cenderung lesu.
Berdasarkan data dari China Coal Resource (CCR), stok batu bara di enam pembangkit listrik utama China minggu lalu naik 1,9% dibanding minggu sebelumnya. Dengan stok yang sebesar 15,9 juta ton, pembangkit listrik tersebut dapat beroperasi selama 24 hari, naik dari minggu sebelumnya yang hanya 22 hari.
Hal tersebut menandakan, permintaan batu bara dari China pun diprediksi tidak akan meningkat pesat dalam waktu dekat. Apalagi musim dingin yang telah berakhir membuat permintaan lagi-lagi berpotensi terpangkas.
"Permintaan mulai melambat seiring memasuki musim yang sepi (low season)," ujar pialang yang berbasis di China, seperti yang dilansir dari S&P Global Platts.
Mengingat China merupakan konsumen batu bara utama dunia, maka faktor permintaan dari China akan sangat mempengaruhi keseimbangan fundamental (pasokan-permintaan) di pasar global.
Hal senada juga terjadi di India. Berdasarkan laporan dari pelaku industri asal Indonesia, stok batu bara di India yang sedang tinggi akan membuat permintaan sulit untuk meningkat, mengutip Platts.
Ini karena India juga merupakan salah satu importir batu bara terbesar di kawasan Asia yang turut mempengaruhi kondisi pasar secara signifikan.
Masih mengutip Platts, sumber yang berasal dari Jepang mengatakan bahwa ketergantungan Negeri Sakura akan energi matahari untuk memenuhi kebutuhan listrik sepanjang musim panas telah meningkat.
Sebagai informasi, pada saat musim panas Jepang cenderung banyak memakai energi untuk keperluan pendingin udara. Sumber yang sama juga mengatakan bahwa pembangkit listrik Jepang masih memilik sisa stok batu bara yang cukup.
Tak heran, harga batu bara Indonesia yang memiliki kalori 4.200 kcal/kg (Indonesia Coal Index 4/ICI4) juga ikut sebesar 2,71% selama sepekan secara point-to-point.
Disamping itu, adanya hambatan pemeriksaan yang dilakukan oleh bea cukai di sejumlah pelabuhan utama China membuat pengiriman dari Australia menjadi terbatas.
Pelaku industri batu bara mengatakan bahwa sejak awal tahun 2019, batu bara asal Australia yang akan masuk ke Negeri Tirai Bambu harus melalui proses pemeriksaan yang memakan waktu hingga 40 hari. Padahal pada kondisi normal hanya memerlukan waktu 20 hari.
TIM RISET CNBC INDONESIA (taa/hps)
https://ift.tt/2WHUdAT
April 04, 2019 at 06:43PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Kala Permintaan Lesu, Apa Kabar Harga Batu Bara?"
Post a Comment