
Pada Senin (4/2/2019) pukul 12:27 WIB, US$ 1 dihargai Rp 13.985. Rupiah melemah 0,36% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.
Kala pembukaan pasar spot, rupiah sudah melemah 0,07%. Seiring perjalanan pasar, depresiasi rupiah semakin dalam. Dolar AS pun semakin dekat ke kisaran Rp 14.00.
Sepertinya koreksi teknikal sedang menyerang rupiah. Maklum, rupiah sudah menguat tajam yaitu 1,03% sepanjang pekan lalu. Bahkan dalam 2 hari perdagangan sebelumnya, rupiah menguat sendirian di tengah-tengah pelemahan mata uang Asia.
Mengingat cuan yang sudah cukup besar, investor kemudian tergoda. Aksi ambil untung menyelimuti rupiah dan aset-aset berbasis mata uang ini. Depresiasi pun tidak terhindarkan.
Sebenarnya mayoritas mata uang Asia melemah di hadapan dolar AS. Namun faktor domestik di atas membuat pelemahan rupiah menjadi lebih dalam dari kompatriotnya di Asia.
Ya, depresiasi 0,39% membuat rupiah praktis menjadi mata uang terlemah di Benua Kuning. Betul yuan China melemah lebih dalam, tetapi patut diingat pasar keuangan Negeri Tirai Bambu hari ini tutup menyambut Tahun Baru Imlek. Jadi di antara mata uang yang diperdagangkan, rupiah jadi yang paling lemah.
Berikut perkembangan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama Asia pada pukul 12:28 WIB:
http://bit.ly/2Rzh3aV
February 04, 2019 at 07:30PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Gara-gara China Libur, Rupiah Jadi Terlemah di Asia"
Post a Comment