
Direktur Utama BTPN Ongki Wanadjati Dana menjelaskan, semua laba akan disimpan sebagai return of earnings atau laba ditahan. Terlebih, setelah merger diharapkan BTPN akan jadi bank yang lebih kuat dan besar dalam melayani segmen korporasi dan ritel.
"Tahun ini semua laba itu digunakan dan ditaruh sebagai return of earnings, laba ditahan. Jadi kita tidak membagikan dividen," kata Ongki usai Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) di Kantor Pusat BTPN, Jumat (15/2/2019).
Ongki memperkirakan BTPN bisa berubah jadi Bank BUKU 4 di tahun 2021. Hal ini berdasarkan perhitungan level laba gabungan antara BTPN dan SMBC yang sekitar Rp 3 triliun tahun 2018. Sehingga, bila laba bisa dipertahankan sama dalam waktu tiga tahun BTPN sudah bisa mengantongi Rp 9 triliun.
Dengan Rp 9 triliun itu, BTPN bisa memenuhi ketentuan modal inti BANK BUKU IV yang sebesar Rp 30 triliun. Saat ini modal BTPN first tier sebesar Rp 22 triliun.
"Ini konsekuensi logis. Kalau kita lihat laba kita bisa dipertahankan di level ini maka kami perkirakan di akhir 2021 mudah-mudahan bisa tercapai tingkat modal yang diperlukan," imbuh Ongki.
Selain tidak membagikan dividen tahun ini, BTPN belum punya rencana untuk melakukan kegiatan korporasi lain. Artinya, untuk mencapai BUKU 4 BTPN hanya dari pertumbuhan laba yang ditahan. Hingga saat ini, Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal BTPN tercatat sebesar 20%.
"Seperti organik tapi pada prinsipnya kita akan memupuk laba di tahun-tahun mendatang sampai Rp30 triliun." pungkasnya.
Tahun ini juga BTPN belum memiliki strategi khusus setelah merger dengan SMBC. Pihaknya hanya akan memastikan semua induk usaha berjalan dengan lancar. Pasalnya, merger baru efektif per 1 Februari lalu. Pihaknya ingin mengoptimalkan kemampuan setelah merger yang bertambah.
Kemampuan BTPN yang bertambah, lanjut Ongki, misalnya bank bisa memberikan pinjaman ke korporasi dan ritel. Ditambah lagi, bisnis korporasi bisa melayani nasabah bukan saja di Jakarta.
"Perbankan juga bisa mulai melayani eksekutif dan karyawannya. Jadi selain fokus di sana, kita akan lakukan penjualan silang," pungkasnya.
Per Desember 2018, total aset BTPN sebesar Rp 189,9 triliun. Kepemilikan SMBC di BTPN per 1 Februari 2019 sebesar 97,34%. Non performing loan (NPL) atau kredit macet BTPN sebesar 0,7%. Di 2018, dana pihak ketiga (DPK) BTPN tercatat sebesar Rp 98,97 triliun.
Ini Rencana BTPN Setelah Merger
[Gambas:Video CNBC] (hps)
http://bit.ly/2tp0rJo
February 15, 2019 at 08:20PM
Bagikan Berita Ini
0 Response to "Ingin Jadi BUKU IV, BTPN Tak Bagi Dividen ke Pemegang Saham"
Post a Comment